Oleh; Kadek Agus Mahardika
Di lapangan,
kita sering terjebak pada rutinitas: laporan, rapat, pendampingan,
administrasi, dan target program. Hari berganti, pekerjaan selesai, tapi diri
kita tidak banyak berubah. Padahal, setiap tugas sejatinya adalah ruang belajar
yang dibayar oleh negara.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya bekerja, atau sedang bertumbuh?
Berikut adalah
cara mengubah pekerjaan menjadi “sekolah lapangan” yang memberi nilai lebih,
bukan sekadar penghasilan.
1. Ubah Peran: Dari Pegawai Menjadi Murid Lapangan
Berhenti
hanya bertanya “apa yang harus saya kerjakan?”, mulai bertanya:
“apa yang bisa saya pelajari dari tugas ini?”
Contoh
Perangkat Desa:
Saat menyusun
APBDes, jangan hanya fokus pada angka dan format. Pelajari logika kebijakan,
prioritas pembangunan, dan bagaimana keputusan anggaran mempengaruhi
kesejahteraan masyarakat.
Contoh
Pendamping Desa:
Saat
mendampingi musyawarah desa, jangan hanya mencatat hasil. Pelajari dinamika
sosial, cara tokoh masyarakat mempengaruhi keputusan, dan bagaimana konflik
dikelola.
2. Set Target Belajar, Bukan Hanya Target Kerja
Target kerja
membuat kita selesai. Target belajar membuat kita naik level.
Contoh Perangkat Desa:
Target kerja: menyelesaikan laporan tepat waktu. Target belajar: memahami sistem Siskeudes secara mendalam hingga mampu mengajarkan ke desa lain.
Contoh Pendamping Desa:
Target kerja: memfasilitasi kegiatan desa.Target belajar: menguasai teknik fasilitasi partisipatif yang efektif dan inklusif.
3. Anggap Setiap Masalah sebagai Materi Pelajaran
Masalah bukan
hambatan, tapi kurikulum tersembunyi.
Contoh
Perangkat Desa:
Ketika
terjadi kesalahan administrasi atau audit temuan, jadikan itu pelajaran tentang
tata kelola yang akuntabel, bukan sekadar tekanan.
Contoh
Pendamping Desa:
Ketika
program tidak berjalan atau masyarakat kurang partisipatif, pelajari akar
masalahnya: apakah komunikasi, kepercayaan, atau pendekatan yang kurang tepat?
4. “Curi” Ilmu dari Sekitar dengan Elegan
Ilmu tidak
selalu datang dari pelatihan formal.
Contoh
Perangkat Desa:
Amati
sekretaris desa yang rapi dalam administrasi, atau kepala desa yang piawai
mengambil keputusan. Tanyakan, pelajari, tiru yang baik.
Contoh
Pendamping Desa:
Belajar dari
pendamping senior yang mampu membangun kedekatan dengan masyarakat. Perhatikan
cara mereka berbicara, mendengar, dan menyelesaikan masalah.
5. Dokumentasikan Pelajaran Harian
Setiap hari
adalah kelas. Jangan biarkan ilmunya hilang.
Catat 3 hal
setiap pulang kerja:
- Satu hal yang berhasil
- Satu kesalahan
- Satu insight baru
Inilah yang
membedakan orang yang berkembang dengan yang hanya “hadir dan pulang”.
6. Upgrade Pertanyaan dalam Kepala
Berhenti
bertanya: “kenapa kerjaan ini banyak?” Mulai bertanya:
“skill apa yang sedang ditempa dari pekerjaan ini?”Apakah ini melatih komunikasi? Kepemimpinan? Analisis kebijakan? Atau ketahanan mental?
7. Punya Visi Jangka Panjang
Tanpa visi,
kerja terasa berat. Dengan visi, kerja jadi proses.
Apakah Anda
ingin menjadi ahli tata kelola desa? Fasilitator pemberdayaan terbaik? Atau
pemimpin yang berdampak?
Jika tidak
tahu tujuan, maka setiap tugas akan terasa sebagai beban, bukan langkah.
8. Kerja Itu Capek, Tapi Harus Bernilai
Kita semua
lelah. Tapi ada dua jenis lelah:
- Lelah tanpa makna → hanya menukar
waktu dengan gaji
- Lelah yang bertumbuh → menukar waktu
dengan masa depan
Pilih yang
kedua.
Penutup
Sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat di Kota Denpasar, kita tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat di tengah masyarakat. Karena sejatinya, pemberdayaan bukan hanya untuk desa. Tapi juga untuk diri kita sendiri.
Bekerjalah seperti murid. Belajarlah seperti pemimpin. Dan bertumbuhlah setiap hari—dibayar oleh pekerjaanmu.
#BangunDesaBangunIndonesia
#DesaTerdepanUntukIndonesia
#PendampingDesaKerjaBerdampak

.jpeg)




