Oleh; Kadek Agus Mahardika
DENPASAR – Pagi itu,
suasana di Desa Pemecutan Kelod terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pukul
10.00 WITA, satu per satu perangkat desa, pengurus BUMDes, hingga unsur
masyarakat mulai memenuhi ruang Musyawarah Desa (Musdes). Bukan sekadar agenda
tahunan, forum ini menjadi ruang bertemunya harapan—tentang bagaimana desa bisa
tumbuh lebih mandiri melalui BUMDes.
BUMDesa Eka Panca Lestari
kembali menunjukkan geliat positifnya. Dalam Musdes pertanggungjawaban Tahun
Buku 2025, terungkap bahwa BUMDes mampu membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU)
sebesar Rp35,27 juta. Angka ini bukan sekadar nominal, tetapi cerminan dari
kerja bersama dan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh.
Sebagian besar SHU tersebut
dialokasikan untuk Pendapatan Asli Desa (PAD) dan pemupukan modal,
menandakan bahwa BUMDes tidak hanya hadir sebagai unit usaha, tetapi juga
sebagai penggerak ekonomi desa yang memberi manfaat nyata.
Direktur BUMDes dengan penuh
harap menyampaikan keinginan agar ke depan, Pemerintah desa dapat semakin
mempercayakan belanjanya kepada BUMDes. “Kalau kita kuatkan dari dalam, BUMDes
akan semakin berkembang dan manfaatnya kembali ke masyarakat,” menjadi semangat
yang tersirat dalam forum tersebut.
Namun, di balik capaian itu, ada
ruang refleksi. TA PM Kota Denpasar, Kadek Agus Mahardika, yang turut
hadir, melihat bahwa Musdes masih bisa dibuat lebih hidup. Partisipasi belum
merata, diskusi masih didominasi segelintir pihak.
Menurutnya, Musdes sejatinya
bukan hanya ruang laporan, tetapi ruang kolaborasi. Ia membayangkan ke depan
forum ini diisi lebih banyak suara—dari pelaku UMKM, kelompok usaha desa,
hingga mitra ekonomi lokal yang selama ini menjadi denyut nadi pergerakan ekonomi
desa.
“Kalau semua ikut terlibat,
BUMDes tidak hanya tumbuh, tapi juga berakar kuat di masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya
menjaga akuntabilitas, agar setiap keputusan—mulai dari laporan hingga
pembagian SHU—tercatat dengan baik dan sesuai regulasi. Transparansi,
menurutnya, adalah fondasi kepercayaan.
Menjelang siang, Musdes pun
ditutup dengan penandatanganan berita acara. Sederhana, namun sarat makna.
Karena dari ruang kecil itu, lahir komitmen besar—bahwa pembangunan desa bukan
hanya tentang angka, tetapi tentang kebersamaan.
Dan di Desa Pemecutan Kelod,
langkah itu terus berjalan. Pelan, tapi pasti.
#PendampingDesaKerjaBerdampak


Tidak ada komentar:
Posting Komentar